Island Story (Indonesia)
Pendahuluan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah nama tepat untuk mengungkapkan negara kepuluan yang terdiri dari ribuan pulau, suku, bahasa. Pulau Ohoiew adalah sebuah pulau kecil di kepulauan Kei Kecil, Maluku Tenggara, yang merupakan wilayah petuanan desa Ngilngof dan Namar, yang terletak persis di sebelah barat desa Ngilngof. Karena itu akan dibahas terlebih dahulu beberapa aspek dari desa Ngilngof, sebelum disajikan beberapa aspek dari pulau Ohoiew bagi pembaca.
Desa Ngilngof
Desa Ngilngof adalah sebuah desa yang berada di sebelah Barat Laut Kepulauan Kei Kecil. Desa ini memiliki beberapa aspek yang dapat diketengahkan sebagai berikut.
Pertama, letak desa ini persis di pinggir pantai pasir putih yang menghandap ke arah barat. Topogarfinya terdiri dari pasir di pantai, disusul tanah yang berwarna merah dan ditumbuhi hutan belukar. Hutan tropis yang dulunya meliputi kepulauan ini, kini telah hilang karena pemanfaatan penduduk yang tak teratur. Selain tanah merah terdapat pula tanah hitam di daerah sekitar danau Ablel, Ternut, Taur dan Ohoitom yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian oleh penduduk setempat.
Kedua, penduduknya adalah orang-orang Austronesia yang bermigrasi ke desa dalam beberapa ribu tahun lalu. Jumlahnya sekitar 1118 jiwa pada tahun 2010. Arus migrasi berlangsung dari dua arah, yaitu sebagian datang dari daerah Banda, Leti, Kisar dan Luan (sebut saja migrasi dari Selatan), dan yang lain berasal dari Ternate, Tidore, Seram, Goram (migrasi dari utara). Mereka adalah penutur bahasa Austronesia yang tersebar dari Taiwan, Madagaskar, kepulauan Indonesia dan kepulauan Filipina, sampai Lautan Pasifik.
Desa ini memiliki beberapa obyek wisata yang sudah dinikmati oleh wisatawan domestik dan luar negeri. Yang pertama dan terutama adalah Ngurbloat, yang disebutkan dalam buku Perichles sebagai the finest beach of the world dan panjangnya sekitar 5 km. Pantai pasir puith yang halus bagaikan tepung ini telah dikunjungi setiap minggu oleh para penduduk kota Tual dan Langgur. Selain itu pantai di depan dan dekat desa Ngilngof serta pantai Yanroa yang semuanya berpasir putih.
Kedua, danau Ablel yang letaknya di sebelah timur desa Ngilngof. Sayang, air danau ini belum bisa dijadikan tempat mandi, karena lumpur hidup-nya di beberapa tempat serta ada juga buaya di dalamnya.
Ketiga, gunung atau lebih tepat bukit Kilyeuw dan Kilmanut bisa digunakan oleh para pendaki gunung, karena pulau Kei Kecil hanya memiliki 3 gunung yaitu: gunung Masbait di desa Gelanit, dan gunung Kilyew dan Kilmanut di desa Ngilngof.
Keempat, Hoat dan Ded Te Idar adalah obyek lain bisa dinikmati oleh para turis. Hoat adalah teluk di sebelah timur desa yang dinikmati dalam perjalanan dengan longboat atau speedboat, sedangkan Ded Te Idar adalah sebuah jalan setampak dalam batu karang, yang kabarnya lahir dari dari hentakan kaki seorang ibu tua bernama Te Idar. Terakhir, kesenian dalam bentuk tabuhan tifa dan tarian bisa menjadi atraksi menarik lain yang bisa dinikmati oleh para pelancong.
Ohoiew
Pulau Ohoiew adalah sebuah pulau karang kecil yang berada di depan desa Ngilngof dan termasuk 1 dari sepuluh pulau yang berada di pantai barat laut Kei Kecil. Pulau-pulau lainnya adalah Ohoiwa, Ohoitir, Nukahai, Nai, Hoat, Lea, Amut, Nuhura, Tangwain.
Pulau ini dulunya menjadi tempat tinggal manusia, seperti namanya mengindikasikannya: Ohoi berarti kampung atau desa dan Ew tidak jelas artinya, namun sudah ditinggalkan beberapa ratus tahun lalu. Konon, dulu ada perlombaan perahu di antara 2 orang nenek dan hadiahnya pemenang akan memiliki pulau-pulau itu. Yang satu lebih cepat dari yang lain, sehingga yang tertinggal sambil berdiri di perahunya menunjuk pulau-pulau yang belum disinggahi sebagai miliknya. Karena itu semibilan pulau lain menjadi milik desa Debut-Dian, yang moyangnya mengklaim kepemilikan atas pulau-pulau tersebut, sedangkan Ohoiew menjadi milik orang Ngilngof-Namar. Masih ada 3 pulau lagi yang menjadi petuanan orang-orang Ngilngof yakni pulau Ngaf, Er dan Ngodan yang terletak di sebelah utara desa Ngilngof.
Pulau berpasir putih ini ditumbuhi kayu-kayu dan belukar serta pohon kelapa (yang sayangnya kurang mendapat perawatan) di atas tanah kering, di pesisir pantai bertumbuh pohon bakau pada sisi timur dan barat. Di dalam laut sekitar pulau ini bertumbuh terumbu karang yang mulai berkembang lagi sesudah rusak akibat kegiatan ekonomis masyarakat setempat. Ikan dari berbagai jenis dan ukuran hidup di laut pulau ini bagi pelancong yang ingin memancing. Juga hidup berbagai jenis kerang-kerangan. Perusahaan mutiara juga berada di sini yang dimiliki oleh seorang pengusaha, ada tambak ikan. Masyarakat lokal memasang bubu atau memancing ikan di laut sekitar pulau atau pun memungut kerang-kerangan untuk konsumsi sendiri atau dagang.
Di laut sekitar pulau orang-orang mengusahakan rumput laut yang ditanam pada musim angin timur. Selain itu fauna yang ditemukan di sana adalah burung-burung seperti bangau dari berbagai jenis, elang, ayam hutan (maleo yang mulai hilang), pombo dan murai. Salah satu fauna menarik dari pulau ini adalah kepiting kelapa besar (istilah emiknya kartuhan) yang biasanya berlindung di dalam gua-gua batu.
Cuaca Ohoiew mengikuti pola cuaca yang umum di Indonesia. Angin timur bertiup pada bulan April-Oktober, diselingi angin tenggara yang keras pada bulan Juni-September, dan angin barat Desember-Maret. Namun akibat global warming arah angin sulit diprediksi pada saat sekarang. Arus laut berlangsung sebagai berikut: arus laut pasang naik mengalir dari arah utara ke selatan, sedangkan arus laut pasang surut dari arah selatan ke utara. Berkaitan dengan arah angin, arah ombak dari timur ke barat pada musim timur, dan begitu sebaliknya bila musim barat. Musim timur biasanya menjadi musim kering, sedangkan musim barat berarti tinggi curah hujan menjadi. Biasanya ada satu masa kering, panas dan tenang dari bulan awal Oktober sampai awal Desember.
Pulau ini dapat menjadi suatu obyek wisata karena beberapa alasan berikut: pulau ini tidak berpenghuni, sehingga turis akan menikmati kebebasan tanpa gangguan manusia lain yang tidak berkepentingan; pantainya yang berpasir putih menjadi tempat untuk berjemur dan lautnya yang relatif bersih menjadi tempat berenang atau menyelam yang menarik, juga terdapat jaringan telekomunikasi modern seperti telepon (simpati, XL).
Penutup
Jarak pulau Ohoiew dengan desa Ngilngof sekitar 10 menit perjalanan dengan speedboat, kurang lebih 2-3 km. Untuk mencapai pulau ini, para turis bisa datang dengan pesawat atau kapal laut dari Indonesia Barat ke Langgur dan Tual, lalu dengan mobil kurang lebih 30 menit ke desa Ngilngof dan seterusnya menggunakan longboat atau speeboat ke pulau tujuan. Silahkan mencoba!!

